Fragments Of Love
Aku yang selalu di bullying
di kampus merasa lega saat libur musim panas tiba. Menanggung rasa malu dan
sabar, itu yang selalu ku lakukan. Aku berencana menjenguk kakek ku di desa. Untungnya
sakitnya tidak parah.
Sesampainya
di tempat kakek di rawat, aku segera mencari ruangan kakek. “Hmm.. 08-I. 08-I.
Mana ya?” gumamku sambil mencari. “Nah ini dia kamar 08-I!” kata ku dalam hati.
“Kakeeekkk!!!” sapa ku saat membuka pintu. Glek, saat ku lihat baik-baik
ternyata itu bukan kakek! Melainkan orang yang paling dikagumi seisi kampus.
Bukan
dia yang terbaring di kasur pasien, melainkan seorang gadis kecil berambut
sebahu. Dia melihatku dengan tatapan bingung. “Ma-Maaf! Permisi.” Ujarku malu
lalu menutup pintu. Setelah ku perhatikan baik-baik nomor kamarnya, ternyata
itu nomor 08-l.
“Kek,
kakek. Gadis yang dikamar 08-I itu sakit apa?” tanya ku saat sedang menemani
kakek. “Kalo ngga salah dia terkena kanker sejak kecil, begitu yang kakek dengar
dari para suster.” Jawab Kakek. Aku yang mendengarnya pun sedikit iba.
Hari
mulai gelap, aku pun pulang ke rumah Kakek yang lumayan jauh dari rumah sakit.
Saat perjalanan pulang, tak sengaja aku bertemu dengan Kuga. “Apa yang kau
lakukan di sini?” tanya Kuga. “A-A-Aku menjenguk Kakek ku.” Jawabku. “Haha.
Ngga usah grogi gitu. Aku ngga akan ganggu kamu kayak anak-anak lain kok.” Kata
Kuga sambil tersenyum. Aku pun menarik napas lega. “Oh iya, mulai besok temani
aku bermain dengan adik ku ya.” Pinta Kuga lalu pergi.
“Yuna!
Bangun! Mau sampai kapan kamu tidur!” teriak Bibi ku. Aku pun lekas bangun dan
bergegas mandi dilanjutkan sarapan. Setelah itu aku pun pergi ke rumah sakit.
Lagi-lagi aku berpapasan dengan Kuga. Mungkin jodoh ya hihi.
Setelah
menjenguk kakek, aku pergi ke kamar dimana adik nya Kuga dirawat. Saat ku buka
pintu, terlihat Kuga yang sedang bernyanyi untuk adiknya. Suaranya sangat
indah, bagaikan mendengar malaikat bernyanyi. “Per-Permisi.” Sapa ku ragu. Lalu
Kuga dan adiknya melihat ke arahku sambil tersenyum. “Ah ya, masuk Yun!” kata
Kuga. “Hihi, kakak yang kemarin salah masuk kamar.” Sindir adik Kuga.
Senja
pun tiba. “Terima kasih Yuna. Ayo ucapkan terima kasih pada kak Yuna, Sera.”
Kata Kuga. “Arigatou Yuna-san.” Ucap Sera sambil tersenyum
berseri-seri. “Sama-sama Sera-chan.”
Kata ku sambil mengusap rambutnya. “Besok main lagi ya kak?” tanya Sera. “Hmm
ya baiklah.” Jawab ku. “Ya sudah, aku antarkan Sera ke kamarnya dulu ya. Mau
menunggu atau pulang sendiri?” tanya Kuga. Aku hanya menggeleng. Lalu Kuga
hanya tersenyum sambil berlalu.
Aku
sedikit menyesal menolak ajakkan Kuga. “Tin! Tin!” terdengar bunyi klakson
mobil. Aku pun menoleh. “Ku-Ku-Kuga.” Sapa ku lirih. “Ayo masuk, biar ku antar
sampai rumah.” Ajak Kuga. “Ba-baiklah. Ma’kasih.”
Jawab ku sambil masuk ke mobilnya. Lalu ku tunjukkan arah ke rumah Kakek ku.
Dua
minggu liburan pun berlalu. Aku berpamitan dengan Sera dan memberikan nomor handphone ku untuknya menghubungiku jika
membutuhkanku. Sambil menangis, ia memberikanku sebuah gelang usang yang selalu
dipakainya. Aku pun memeluknya sambil berbisik “Danke”.
Aku
kembali ke kota bersama Kuga. Aku jadi kepikiran. Apa yang akan terjadi besok?
Apa pendapat Kuga tentang ku? Apakah dia mau menjadi temanku? Aku sedih
memikirkannya. Melihat wajah ku yang sedih, Kuga pun mengacak-acak rambut ku.
“Hey cantik kenapa sedih?” tanya Kuga. Aku cantik? Kuga bilang aku cantik! Spontan muka ku pun memerah bagai
kepiting rebus, aku menunduk malu. “A-A-Aku ngga cantik kok.” Ucap ku lirih.
Kuga tertawa mendengar perkataanku. Aku pun bertanya kenapa ia tertawa. “Hihi,
kamu itu cantik. Makanya anak-anak lain selalu mengganggu mu.” Jawab Kuga
sambil tertawa. Aku pun gemetaran mengingat yang selalu terjadi dikampus.
“Tenang. Kali ini aku tidak akan tinggal diam jika ada yang mengganggu mu. Aku
pikir kamu di bullying karena
menyebalkan, soalnya kamu jarang tersenyum.” Ucap Kuga sambil mengelus
rambutku. Setelah mendengar ucapan Kuga, aku jadi berpikir untuk selalu
tersenyum.
Hari
ngampus di musim panas tiba. Mata kuliah pertama pun dimulai. Hampir seisi
kampus menggosipkan ku dengan Kuga. Aku takut akan di labrak oleh para fans Kuga. Tapi ku teringat perkataan
Kuga kemarin. Dia pasti akan melindungi ku. Pelajaran pun berakhir dengan baik.
Saat
istirahat, aku pergi ke perpustakaan untuk membaca komik. Hal yang ku takutkan
pun terjadi. Fans Kuga menghadang ku.
Mereka menjambak-jambak rambut ku sambil memaki-maki ku. Aku hanya menangis
kesakitan. Ya, kepala ku sakit karena mereka menarik-narik rambut ku. Dan hati
ku sakit mendengar ucapan mereka.
“Hey!
Apa yang kalian lakukan!” teriak Kuga yang melihat ku di bullying mereka. “Apaan sih! Kami cuman ngga suka dia dekat-dekat
dengan mu! Ya kan teman?” bela si pemimpin geng itu. “Iya iya betul!” jawab
yang lainnya. “Apa-apaan sih. Gue yang
minta bantuan dia. Kok lo pada yang
hebohin hal itu?” bentak Kuga. Mereka yang malu dan kesal karena dimarahi Kuga
pergi meninggalkan kami berdua.
“Are you ok?” tanya Kuga dengan khawatir.
Aku hanya diam menunduk. Dia membelai rambut ku dan menciumnya sambil berkata
“Maaf, karena ku kamu menjadi begini.” Aku hanya menggelengkan kepala.
Kuliah
pun usai. Sebelum pulang, aku mengecek loker ku. Saat ku membuka loker, keluar
setumpuk kertas dan foto ku yang di coret-coret. Ini semakin buruk setelah
libur musim panas. Membuatku enggan berkuliah.
“Hai.”
Sapa Kuga. Sepertinya ia menunggu ku sejak tadi. Setelah menyapa ku, ia menarik
tangan ku. “Ayo ikut aku!” paksa Kuga. Perasaan ku tidak enak, karena fans Kuga melihatku dengan sinis. Aku pun
ikut pergi dengan Kuga.
“Sudah
sampai. Ayo turun.” Kata Kuga. Ternyata ia membawa ku ke sebuah salon. “Tolong
dibuat glamour ya.” Ujar Kuga pada stylist salon. Aku hanya diam ke
bingungan.
“Sudah
selesai nona.” Ujar stylist salon.
Aku pun membuka mata, ingin melihat apa yang terjadi pada diri ku. “I-I-Ini
aku?” tanya ku tak percaya. “Iya, itu kamu. Cantik sekali.” Ujar Kuga.
“Ku-Kuga.” Kata ku malu dan terkagum-kagum melihat Kuga memakai tuxedo. Setelah Kuga membayar semuanya,
ia mengajak ku pergi lagi.
Aku
bertanya-tanya, mau dibawa kemana aku? “Ini hari special.” Ujar Kuga. “Yap kita
sudah sampai.” Ternyata ia membawa ku ke sebuah resort termewah. “Yuk turun.” Ujar Kuga sambil mengulurkan
tangannya.
“Yunaaaaa-san!” teriak Sera yang berlari menghampiri
ku dan memeluk ku. “Hai sayang.” Sapa ku lalu mencium pipinya. Kuga hanya
tersenyum melihat kami. Di meja yang sudah ditempati Kuga, terlihat dua orang
yang sangat rapih, sepertinya orang tua Kuga dan Sera. Dan ku melihat ada
sebuah kue ulang tahun yang sangat besar. Ternyata hari ini ulang tahun Sera!
Pantas banyak anak seumuran Sera. Tapi kenapa banyak orang dewasa juga? Aku pun
membisikkan “Saengil cukhae hamnidae” pada
Sera.
Tiba-
tiba muncul salah satu orang yang selalu mengusik ku. Dia merangkul Kuga dan
mencium pipinya di depan orang tua Kuga. “Hello
my fiancé.” Ucapnya pada Kuga. Walaupun aku kurang mengerti maksudnya, tapi
itu sangat membuat hati ku sakit.
“Apaan
sih lo nempel-nempel sama gue mulu. Najis tau ngga!” bentak Kuga lalu melepas rangkulannya dan mengelap
pipinya, lalu menghampiri ku. “Ayo kesana.” Katanya sambil menarik ku. Ku lihat
gadis itu melihat ku sinis. “Permisi om, tante.” Sapa ku sambil menunduk salam.
Mereka tersenyum pada ku. Lalu sang ayah berkata “Pantas Kuga tidak mau
dijodohkan dengan Maria. Yang ini lebih ‘waw’.” “Jelaslah Pi, siapa sih yang
mau sama nenek sihir itu!” celoteh Sera. “Sst Papi! Sera!” ujar Kuga malu.
Orang yang mendengarnya hanya tertawa.
Dihari
ulang tahun Sera itu, Kuga melamar ku di depan para tamu undangan. Aku yang
kaget hanya terdiam. “Wanna be my wife?”
tanya Kuga sambil mengeluarkan cincin yang indah. Aku menangis haru dan
menjawab “Iya”. Para tamu undangan bertepuk tangan.
Beberapa
hari setelah kami menikah, tidak ada yang mengganggu ku lagi. Aku sungguh
bahagia. Setelah menikah dengan Kuga banyak perubahan pada diri ku. Yang dulu
hampir sama sekali tidak memiliki teman, sekarang aku mempunyai banyak teman.
Mereka yang selalu mengusik ku meminta maaf. Dan Sera berhasil menjalankan
operasi dan sembuh total. Terima kasih
Tuhan atas berkah mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar